Kenapa beribadah?

March 26, 2009 at 8:15 pm | Posted in Spiritual | Leave a comment
Tags: ,

Hasan Baidaie:

Diceritakan, suatu saat yang udara sangat panas, Khalifah Umar bin Khattab ra meminta segelas air tetapi air itu tidak jadi diminum lantaran beliuau mendengar lantunan ayat 20 Surat Al-Ahqaf yang artinya: Dan ingatlah pada hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka. (Kepada mereka) dikatakan,”Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik(kenikmatan) dalam kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang dengannya, maka kini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri dimuka bumi tanpa hak dan kamu telah berbuat kefasikan”.
Beliau tidak jadi minum dengan alasan agar KENIKMATAN yang disediakan untukku di akhirat nanti TIDAK BERKURANG karenanya. Sikap beliau yang ingin mendapatkan IMBALAN kesenangan oleh filosof Ibnu Sina dipandang sebagai sikap pedagang.
Ada pula semacam sikap seorang buruh yang patuh karena takut kepada majikannya yaitu orang yang beribadah karena dorongan takut siksa neraka.
Ada lagi semacam sikap seorang ibu terhadap anaknya yang masih kecil, ia mencurahkan kasih sayangnya tanpa imbalan karena cinta kepada buah hatinya begitu tingi; demikian pula seorang yang beribadah didorong oleh rasa cinta kepada Tuhan yang telah memberikan segalanya kepadanya, bukan karena mengharap imbalan atau karena takut siksaNya.

Nah, sekarang bagaimana sikap keagamaan kita dalam pengabdian(ibadah) kepadaNya, dimana keberadaan kita diantara ketiga macam manusia tersebut diatas, semacam pedagang yang mengharapkan imbalan keuntungan(pahala), semacam buruh yang takut sanksi(siksa) majikannya atau semacam ibu yang mencintai bayinya tanpa pamrih?
Salah satu dari ketiga macam motif atau tujuan beribahah kepada Allah swt bagi orang Muslim bolah-boleh aja, artinya tidak mengurangi arti ikhlasnya sedikitpun.

Masih ada lagi macam orang beribadah- yang ini mah jangan sampe terjadi pada kite-secara otomatis kaya robot. Pelakunya tidak mengerti kepentingan dan tujuan yang dilakukannya, ia bekerja sesuai dengan apa yang diprogramkan, sedankan yang memprogramkannya adalah orang yang telah tenggelam dalam KESIBUKAN DUNIAWI. Kita tidak heran orang macam ini ketika salat yang teringat adalah bisnis, berbagai kesenangan duniawi bahkan terbayang pula dibenaknya benda-benda remeh yang berarti.

Advertisements

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.